Selasa, 23 April 2019

Bercerita Tentang Makna Hidup Secara Filosofis Dalam Pertunjukan Teater Bulan Bujur Sangkar.

Pertunjukan drama teater Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang  yang di sutradarai oleh Khevin Lalenoh bertempat di G.K Dewi Asri Isbi Bandung merupakan pertunjukan pembuka dalam rangkaian acara hari teater sedunia yang digagas oleh Keluarga Mahasiswa Teater (KMT). Hari Teater Sedunia ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan dua tahun sekali dengan tujuan untuk mewadahi komunitas teater dan ukm teater yang ada di Universitas Bandung dan sekitarnya.Ketika memasuki panggung pertunjukan, mata penonton dimanjakan oleh penataan artistik yang memukau hati. Yaitu sebuah pohon layaknya seperti pohon beringin yang berdiri diatas panggung kemudian disoroti oleh lampu redup dan tali tambang yang bergantung. Seakan - akan imajinasi digiring kesebuah tempat yang jauh dari suasana perkotaan.





Ketika tokoh orang tua solelokui, photo by panitia KMT

Kisah berlatar belakang sebuah perang saudara, antara pemerintah dan pemberontak. Seorang Algojo tua sedang mempersiapkan tiang gantungan. Dia akan menggantung siapa saja yang datang padanya.Pertunjukan drama Bulan Bujur Sangkar ini menceritakan tentang makna hidup yang sesungguhnya dengan aliran filsafat, secara metafora menggambarkan perlawanan terhadap sistem sosial. Sebuah harapan, keinginan, kebebasan dan kematian dengan bahasa pemajasan, tuturan idiomatik, dan pribahasa diramu oleh Iwan Simatupang dalam balutan dialektika filsafat eksistensialisme. Dalam pertunjukan ini terdapat empat tokoh, yaitu orang tua dengan wataknya yang  sangat egois namun sangat berpengetahuan luas dan tidak mau menerima realita kehidupan, juga pemarah. Selanjutnya, anak muda dengan watak yang pemberani seperti seorang yang sedang berperang di suatu tempat. Tokoh ketiga ialah perempuan yang diperankan oleh Shalom, dalam pertunjukan ini perempuan berwatak mudah putus asa. Tokoh terakhir ialah gembala yang di perankan oleh Auf yang mempunyai watak penakut.


Adegan ketika orang tua berdialog dengan anak muda

Kisah ini menceritakan tentang tokoh orang tua yang selama hidup akhirnya berhasil mencapai keinginannya membangun tali gantung diatas pohon sesuai keinginannya selama ini. Tokoh orang tua menganggap sebuah tali yang bergantung  itu adalah penentu awal dan akhir, apakah kita yang akan dimatikan atau mematikan di tali yang bergantung itu. Ini terlihat pada monolog terakhir yaitu “aku membunuh oleh sebab itu aku ada”. Pada hari itu datang pula tokoh anak muda yang heran melihat pohon besar yang bertalikan tali tambang dan menganggap orang tua sebagai musuh, sontak saja anak muda yang di perankan oleh Andhika Y Prakhasa ini langsung menyerang orang tua yang diperankan oleh Heryana G Benu dengan senapan yang ia genggam. Tetapi orang tua ini bisa menghindarinya dan membalas serangan yang diberikan anak muda, terjadilah baku hantam secara teatrikal diantara kedua aktor. Selain itu Pak tua ini melawan  balik anak muda itu bukan hanya lewat sentuhan fisik tetapi mencoba melawannya juga dengan cara mempengaruhi pikiran anak muda tersebut. 

              ketika orang tua berdialog dengan tokoh seorang wanita


Keinginan anak muda pun sirna ketika ia mendengarkan dan menafsirkan kata-kata yang terucap dari mulut orang tua, ia menjadi terpengaruhi bahwa kehidupan adalah pilihan untuk mati dan dimatikan. Secara keseluruhan pertunjukan disajikan oleh sutradara dan para pemain dengan sangat baik dan disiplin. Serta ingatan para penikmat seni pertunjukan yang khususnya teaterpun dibawa, dengan konsep teater eksistensialis yang diusung dua tokoh besar teater, yaitu J.P Sartre dan Albert Camus. Kemudian  efek kartarsis yang menjadi semangat teater tragedi sejak era Tragis Aristotelian pun tak luput dirasakan oleh penonton pada pertunjukan malam itu. Barangkali, semangat tersebut senada dengan tema besar yang diangkat Perayaan Hari Teater Sedunia tahun 2019 ini, “Kami ingin menyebarkan gagasan menjaga proses teater pada kualitas dan tahapannya yang benar. Selain itu, mengembalikan kembali semangat teater beraliran realis”, ujar Firman Maulana, saat Konferensi Pers Perayaan Hari Teater Sedunia 

Penulis
Fahadpa Alfaj

0 komentar:

Posting Komentar