A. Komunikasi Budaya
Dari sejak dilahirkan ke dunia manusia diberikan kelebihan olah tuhan, salah satunya adalah sarana berkomunikasi. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media). Dari sejak bayi manusia sudah dapat berkomunikasi, namun jenis komunikasi yang dilakukan oleh bayi dan orang dewasa itu tentu saja berbeda. Karena bayi itu belum dapat mengekspresikan perasaan dan pikirannya dengan kata – kata oleh karena itu, komunikasi pada bayi lebih banyak menggunakan komunikasi nonverbal. Selain itu pengertian budaya menurut beberapa ahli adalah Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Dan menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual, dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Jadi Ketika seseorang manusia sedang berusaha berkomunikasi dengan manusia-manusia yang berbeda budaya, dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, peristiwa itu membuktikan bahwa budaya dipelajari secara tanpa sadar.
Jadi pada dasarnya itu semua komunikasi itu adalah budaya. Setiap manusia dalam berkomunikasi di pengaruhi terlebih dahulu oleh lingkungannya setelah itu terciptalah sebuah budaya dalam berkomunikasi. Kita ambil contoh komunikasi masyarakat sunda di daerah Paneglang Banten, Garut, dan Bandung akan berbeda meskipun ketiga daerah ini sama dari suku Sunda. Yang membedakannya adalah geografi lingkungan tempat mereka singgah. Bukan hanya komunikasi etnis bahkan komunikasi bahasa persatuanpun yaitu bahasa Indonesia, setiap masyarakat yang mempunyai latar belakang etnis yang berbeda-beda, tempat tinggal, lingkungan yang berbeda. Jika disatukan menggunakan bahasa komunikasi Indonesiapun akan berbeda dan lebih otentik. Karena latar belakang kultur yang telah mempengaruhi itu semua. Jadi, Indonesia ini mempunyai ragam komunikasi budaya yang sangat kaya. Beda daerah, maka komunikasinyapun akan ikut berbeda. Kita ambil salah satu contoh dalam masyarakat urban di daerah perkotaan Bandung. Komunikasi budaya antar pertemanan, sahabat dekat akan terlihat dari jenis komunikasinya, seperti jika seorang sahabat lama, tidak bertemu dalam waktu yang lama, kemudian dipertemukan kembali. Komunikasi yang di lontarkannya itu adalah “woii anyingg geus lila teu papanggih uey, kamana wae sia. Sehat goblog?” ini adalah sebuah komunikasi kesundaan yang sangat kasar dan tidak layak jika pertemanan baru menginjak beberapa hari atau, baru pertemu saat itu juga. Pasti anda akan di tinju oleh teman baru anda. Tapi komunikasi seperti itu akan keluar jika pertemanan yang erat sudah bertahan sangat lama. Berarti kesimpulannya adalah komunikasi budaya akan berkembang seiring berjalannya waktu, jika secara teori mungkin komunikasi dengan jenis seperti itu tidak akan ada. Dan mungkin komunikasi jenis seperti ini hanya ada pada masyarakat kesundaan perkotaan, tapi pertemanan itu sudah terjalin sangat erat.
B. Komunikasi AntarBudaya
Komunikasi adalah suatu hal yang penting dalam kehidupan manusia, apa jadinya jika semua manusia di dunia ini tidak dapat berkomunikasi, entah itu komunikasi verbal maupun non verbal. Mungkin, jika itu terjadi dunia ini akan terasa hampa dan sunyi.
Jadi komunikasi itu adalah unsur utama dan terpenting dalam kemajuan peradaban umat manusia. Tetapi, tentu saja jenis komunikasi itu tidak akan seragam atau sama percis dalam kesatuan dunia ini. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, berbeda daerah, berbeda ras, berbeda etnis, berbeda suku, bangsa, dan yang lain sebagainya. Maka komunikasi itupun akan berbeda. Lantas bagaimana jika kita berkomunikasi antarbudaya?. Menurut para ahli seperti Dalam pandangan Stewart (1974), komunikasi antarbudaya memang merupakan komunikasi yang terjadi dibawah suatu kondisi kebudayaan yang berbeda bahasa, norma-norma, adat istiadat, dan kebiasaan. Sedangkan menurut para ahli yang lain ada yang berpendapat seperti Sitaram (1970) yang mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya merupakan seni untuk memahami dan saling pengertian antara khalayak yang berbeda kebudayaan. Berbeda halnya dengan Srnover dan Porter (1972) yang berpendapat bahwa komunikasi antarbudaya terjadi manakala bagian yang terlibat dalam kegiatan komunikasi tersebut mempunyai latar belakang budaya dan pengalaman yang berbeda. Latar belakang tersebut mencerminkan nilai yang dianut oleh kelompoknya berupa pengalaman, pengetahuan, dan nilai. Kemudian, Rich (1974) menyimpulkan bahwa komunikasi antarbudaya terjadi ketika orang-orang yang berbeda kebudayaan dipertemukan. Sehingga, dapat ditarik kesimpulan, bahwa komunikasi antar budaya ini merupakan komunikasi yang terjadi ketika kedua orang atau lebih sedang proses berkomunikasi, untuk mencapai
pemahaman, maupun pengertian yang terjadi di antara khalayak yang berbeda kebudayaan. Oleh karena itu, kegiatan inilah yang membawa keselarasan dalam berkomunikasi. Jika seseorang di dalam komunikasi antarbudaya mengalami shock culture yang berbeda itu hal wajar dan sah-sah saja, karena seseorang harus beradaptasi terlebih dahulu dengan budaya yang ia singgahi. Setiap orang prosesnya akan lama ada yang lama dan ada juga yang cepat. Pengetahuan, pemahaman serta pengalaman sangat diperlukan sebagai kunci menuju komunikasi antarbudaya yang efektif. Amatlah esensial bagi seseorang untuk menyadari masalah-masalah potensial muncul dalam komunikasi antarbudaya, serta bagaimana mengatasinya. Selain itu, penting juga untuk menyesuaikan perilaku setiap orang secara tepat. Fungsi dari seseorang mamahi komunikasi antarbudaya ini salah satunya adalah menambah pengetahuan, ingat setiap daerah yang disinggahi seseorang itu akan mempunyai budaya yang berbeda, jika kita berhadapan dengan komunikasi antarbudaya ini tentu saja kita akan mendapatkan pengetahuan yang sangat luas. Kita akan membuka cakrawala baru dan lebih menghargai antar budaya. Kemudian selain menambah pengetahuan fungsi yang lainnya adalah menyatakan identitas. Dalam berkomunikasi budaya di nusantara ini sangat nikmat, kenapa? Jika kita datang ke ibu kota Jakarta kita akan bertemu seseorang dengan ragam budaya yang sangat berbeda. Dan jika seseorang sedang di posisi berkomunikasi dengan lawan komunikasinya itu akan terlihat dari komunikasinya jika seseorang itu dari suku sunda, batak ataupun jawa. Dan itu dapat kita kitahui identitas mereka serta, saya sendiri sebagai masyarakat yang hidup di tanah sunda dapat menyatakan identitas saya hanya dengan berkomunikasi. Dan kitapun tidak dapat pungkiri bahwa bahasa itu sebagai cerminan budaya Makin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi baik dalam bahasa maupun
dalam isyarat-isyarat nonverbal. Makin besar perbedaan antara budaya. Makin sulit komunikasi dilakukan.Kesulitan ini dapat mengakibatkan, misalnya, lebih banyak kesalahan komunikasi, lebih banyak kesalahan kalimat, lebih besar kemungkinan salah paham. Jadi jika kita mempelajari komuniasi budaya wawasan kita akan lebih luas memahami suatu kebudayaan tertentu. Jadi komunikasi itu sangat erat kaitannya dengan budaya. Berbudayalah secara baik dan santu maka akan tercipta komunikasi yang baik serta santun terhadap orang lain. Komunikasi antar budaya inipun dapat diterapkan dalam menonton sebuah pertunjukan teater salah satu contohnya adalah jika kita menonton sebuah pertunjukan ludruk misalnya, sementara kita terbiasa menonton pertunjukan longser dalam kehidupan sehaari-hari. Disini akan tercipta sebuah komunikasi antara orang-orang yang berbeda antara suku, bangsa, etnik ras dan kelas sosial menjadi sebuah perpaduan ragam yang berbeda kita sebagai penonton longserpun akan mendapatkan sesuatu yang baru dalam ilmu pengetahuan seni.
Oleh : Fahadpa Alfaj
Oleh : Fahadpa Alfaj